Posted in

Arie Kriting & Cuitan “Sensitif” soal Kasus Sal Priadi: Drama Netizen Meledak!

Baru beberapa hari di tahun 2026, dunia hiburan Tanah Air sudah kedatangan lagi sebuah drama online yang bikin ribut netizen. Komika Arie Kriting tiba-tiba menjadi pusat perhatian dan kritik pedas di media sosial setelah dirinya menulis sebuah cuitan di X (dulu Twitter) yang berhubungan dengan kontroversi yang melibatkan penyanyi Sal Priadi dan kasus dugaan pelecehan seksual di balik fotonya dengan Sitok Srengenge. Kicauan itu menjadi pemicu utama gelombang reaksi tajam warganet sepanjang weekend — dan hingga hari ini masih jadi perbincangan panas di kolom komentar.

Drama bermula ketika Arie Kriting memutuskan ikut bersuara dalam debat yang sudah lama bergulir di sosial media soal penanganan kasus kekerasan seksual. Dalam cuitannya, Arie menulis bahwa semua kegaduhan di medsos tentang pelecehan terjadi karena “negara gagal memberikan kepastian hukum yang jelas”, sehingga rakyat merasa perlu saling debat untuk mencari keadilan. Pernyataan ini meskipun berniat soal sistem hukum, justru ditangkap oleh banyak netizen sebagai meremehkan suara para korban dan perjuangan aktivis antikekerasan.

Kicauan Arie langsung meledak di linimasa X, sampai jadi bahan headline infotainment pada 5 Januari 2026 pagi, dan netizen serempak menyerbu kolom komentarnya. Pola komentar yang muncul antara lain mengecam atas apa yang disebut “sensitivitas kurang” dan menuntut figur publik paham konteks sosialnya. Banyak warganet juga membandingkan kasus ini dengan respon publik terhadap kasus lain yang melibatkan figur terkenal, yang menurut mereka mendapat sorotan lebih tajam. Sikap itu bikin opini publik makin polar.

Salah satu tanggapan yang viral adalah netizen yang menulis, “Bang Ari, ketika ada kasus kekerasan seksual kita berisik saja negara gagal memberikan kepastian hukum,” menggambarkan kebingungan dan kritik warganet terhadap poin Arie. Ada pula yang menyatakan bahwa menyuarakan isu sosial bukan sekadar “berisik”, melainkan bentuk dukungan kepada para korban yang selama ini merasa tak terdengar.

Tak ingin situasi makin memanas, Arie Kriting pada akhirnya mengeluarkan klarifikasi dan permintaan maaf yang juga sempat viral. Ia menegaskan bahwa maksud cuitannya bukan untuk merendahkan suara publik atau mengecilkan peran aktivis, tetapi hanya menyoroti lemahnya penegakan hukum terhadap isu-isu pelik seperti pelecehan. Pernyataan itu sendiri membuat beberapa netizen mulai mengubah nada kritik mereka ke arah diskusi yang lebih reflektif soal hukum dan keadilan.

Reaksi publik ini jelas berdampak ke citra Arie Kriting, setidaknya dalam jangka pendek. Angka interaksi di postingan dan headline gosip melonjak drastis, menunjukkan bahwa opini publik terhadap selebritas yang terjun ke isu sosial masih sangat sensitif. Dibesarkan sebagai komika yang fleksibel dalam membahas topik serius, kali ini Arie harus mengakui bahwa tak semua netizen siap dengan nada nuansa dalam diskusi soal kekerasan. Hal ini berpotensi mempengaruhi cara ia berkomunikasi di platform publik ke depan — bisa jadi ia semakin hati-hati atau bahkan memilih untuk lebih banyak klarifikasi pra-engagement.

Di sisi lain, sebagian fans masih memberikan dukungan kepada Arie, dengan argumen bahwa figur publik juga berhak berpendapat tentang isu sosial meskipun kontroversial. Namun, tentu saja titik temu antara kebebasan berekspresi dan sensitifitas isu sosial tetap jadi perdebatan hangat yang muncul dari kejadian ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *