Pagi ini dunia selebritas Indonesia kembali gaduh setelah Aurelie Moeremans turun langsung ke arena media sosial memberikan klarifikasi tajam mengenai respons netizen terhadap buku memoarnya yang tengah viral, Broken Strings. Momen hari ini bukan sekadar soal kontroversi lama, tapi tentang reaksi intens publik terhadap asumsi yang dilemparkan netizen sepanjang akhir pekan, yang memaksa Aurelie angkat bicara secara resmi di platform Threads pada Senin siang (19 Januari 2026).
Beberapa hari belakangan ini buku Broken Strings menjadi buah bibir dunia maya. Memoar yang mengisahkan pengalaman traumatik Aurelie sebagai korban child grooming ini mendadak membawa badai spekulasi terhadap sejumlah artis setelah pembaca dan warganet mencoba menebak-nebak identitas karakter dalam buku tersebut. Situasi semula hanya diskusi biasa di TikTok dan X berubah cepat menjadi hujatan yang diarahkan ke nama-nama besar industri hiburan. Sebut saja, aktor dan artis seperti Roby Tremonti, Nikita Willy, Eza Gionino, Tommy Kurniawan, Kimberly Ryder, dan Miller Khan yang disebut-sebut dalam konteks tebakan netizen.
Pemicu hari ini adalah unggahan Aurelie Moeremans di Threads yang menegaskan bahwa serangan secara personal terhadap artis lain karena spekulasi karakter buku harus dihentikan. Ia meminta netizen untuk fokus pada pesan cerita, yaitu pengalaman, luka, dan proses penyembuhan, bukan mencari “siapa itu di dunia nyata” sampai menyerang sosial media orang lain. Pernyataan ini datang setelah publik melihat gelombang komentar yang makin tajam dan menyasar nama-nama yang tidak pernah secara eksplisit disebut Aurelie dalam buku tersebut.
Kronologi lengkapnya hari ini bermula dari pagi hingga siang ini saat Threads dipenuhi unggahan tentang Broken Strings. Netizen mengutip fragmen buku dan kemudian secara liar melemparkan tebakan ke akun artis tertentu. Dua hari sebelumnya, isu ini sudah memuncak hingga Nikita Willy mendapat hujatan warganet di Instagram dan Twitter, memicu sorotan media online. Namun, klarifikasi terbaru Aurelie ini menjadi puncaknya, karena ia secara gamblang meminta publik untuk “berhenti membully atau menyerang karakter dalam bukunya yang masih sebatas asumsi”.
Respons publik langsung terbelah menjadi dua kubu setelah klarifikasi tersebut tersebar. Sebagian netizen mendukung langkah Aurelie yang dinilai berani dan bijak, menyuarakan pesan empati dan batasan etika di media sosial. Komentar-komentar di X dan TikTok menunjukkan pola seperti, “Aurelie benar banget, jangan rusak karier orang karena asumsi” dan “Focus pada cerita dan pesan bukunya, bukan bikin target baru buat dibully.”
Di sisi lain, ada pula netizen yang tetap skeptis dan meminta kejelasan lebih jauh mengenai siapa tokoh-tokoh yang dimaksud dalam buku tersebut, bahkan menyerukan agar Aurelie “mengungkap identitas karakter yang nyata”. Beberapa komentar bernada, “Kalau tidak mau orang membicarakan, kenapa ditulis detail gitu?” Hal ini menunjukkan polarisasi opini: antara yang ingin kekinian dan yang tetap ingin menelusuri kontroversi sampai tuntas.
Dampak dari klarifikasi ini diprediksi bakal berlanjut ke citra artis di industri hiburan. Di satu sisi, langkah Aurelie mempertegas kontrol narasi dirinya sendiri bisa memperkuat citra sebagai sosok yang dewasa, bertanggung jawab, dan peduli terhadap dampak sosial dari karya kreatifnya. Pesannya untuk tidak menyerang sesama artis juga dipandang sebagai kurasi etika baru di dunia selebritas digital yang sering kali cepat memanas tanpa filter.
Namun, sisi lain menunjukkan bahwa kontroversi ini bisa berdampak panjang bagi artis-artis yang tak berdosa terjebak dalam spekulasi netizen. Brand endorsement, proyek film atau sinetron, dan citra di mata penggemar bisa ikut terpukul jika hujatan terus berlanjut atau tidak diredam. Terlebih di era media sosial saat ini, satu komentar viral saja bisa mengguncang reputasi seseorang dalam hitungan jam.
Intinya, update hari ini bukan lagi sekadar drama lama yang berulang, melainkan momen publik mengamati batas antara kreativitas personal dan tanggung jawab sosial, serta bagaimana netizen harus bijak dalam merespons karya yang sensitif seperti Broken Strings.